4 Unsur Penghubung Kecerdasan Emosional Dengan Pembelajaran Bahasa

4 Unsur Penghubung Kecerdasan Emosional Dengan Pembelajaran Bahasa

Para ilmuwan mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi kamu sendiri dan emosi orang lain”. Kecerdasan emosional adalah keterampilan menyadari secara emosional emosi diri sendiri dan orang lain, mampu mengendalikan emosi (diri sendiri dan orang lain), dan mengelola atau mengatur emosi untuk menyesuaikan dengan situasinya.

Apakah menyadari, menafsirkan, dan mengelola emosi dapat berdampak pada kemampuan mempelajari bahasa? Tentu saja. Dalam satu studi, para peneliti menemukan bahwa individu-individu dengan kecerdasan emosional yang tinggi lebih baik dalam mempelajari bahasa Inggris karena mereka merupakan pendengar yang lebih cakap, mampu mengelola stresnya sendiri dan dapat dengan mudah beradaptasi dalam konteks teks yang mereka baca.

Ujaran manusia menyampaikan lebih dari sekedar makna kebahasaan. Mendengarkan berbagai aspek dari ujaran juga dapat memberikan informasi bermanfaat tentang emosi. Malahan isi emosional ujaran dapat dipahami bahkan ketika tuturannya ambigu secara emosional atau ketika pendengar tidak mengenal bahasa tersebut. Untuk lebih menyadari emosi orang lain, perhatikan unsur-unsur vokal penyampaian ujaran berikut ini:

  • Nada berkenaan dengan ketinggian atau kerendahan suara manusia relatif. Umumnya, perempuan cenderung memiliki suara bernada lebih tinggi daripada laki-laki. Infleksi bolak-balik menambah kepentingan pada pesan dan menjaga khalayak tetap tertarik. Di lain pihak, tidak ada infleksi, atau rentang nada terbatas, yang menyampaikan kurangnya emosi atau ketidakpedulian terhadap pesan tersebut (atau pendengar), juga dikenal sebagai monoton.
  • Volume adalah seberapa keras atau lembut seseorang berbicara. Volume digunakan untuk menunjukkan minat dan seringkali diperbesar oleh pembicara saat mereka memperdebatkan pendapatnya. Seseorang dapat berbisik dalam suara lebih rendah yang dapat menunjukkan olok-olok. Selain itu, volume juga dapat memberikan petunjuk kepada pendengar tentang keadaan emosi dan kepribadian. Misalnya, orang yang membicarakan pendapatnya dengan jelas dan keras dapat merasa percaya diri, yang suaranya rendah dan hampir tidak jelas mungkin merasa tidak aman.
  • Laju melibatkan kecepatan penyampaian pesan. Ujaran paling ekspresif mempunyai laju bervariasi yang diperlihatkan oleh penekanan pada sebagian kata dan jeda alami. Laju yang lebih lambat mungkin menunjukkan kesedihan atau kelelahan. Sebagai perbandingan, laju yang lebih cepat mungkin menunjukkan kegembiraan atau kemarahan. Konteks dan ekspresi wajah dapat digunakan untuk menafsirkan lebih jauh laju ujaran seseorang.
  • Tona mengacu ke isi atau sikap emosi suara kita. Bukanlah isi kata ujaran kita namun metode cara kita mengatakannya. Hal ini melibatkan komunikasi pragmatik, yaitu konsep bahwa kata-kata dapat memiliki makna yang sama sekali berbeda diluar definisi tradisionalnya. Tona juga mengacu ke maksud. Sarkasme, misalnya, adalah tona ketidaktulusan suara yang nampaknya memuji namun sesungguhnya mencela. Sarkasme dapat dimengerti melalui konteks sekitarnya, seperti ketika seseorang berbuat salah, ia berkata, "Bagus sekali! Saya benar-benar jenius!”

Semua unsur lisan penyampaian ujaran tersebut digunakan bersama-sama dengan satu sama lain untuk menambahkan (atau mengurangi) energi dan ekspresi pada kata yang diucapkan. Pembelajar bahasa dapat lebih memperhatikan orang-orang di sekitarnya saat mereka berbicara - dan pada variasi vokalnya sendiri - untuk lebih menyadari emosi dan meningkatkan kecerdasan emosional.

Manfaat Saat Anda Punya Kecerdasan Emosional

Liputan6.com, Jakarta Untuk mencapai sebuah kecerdasan emosional, Anda harus bisa mengombinasikan antara pikiran dan perasaan. Jika seseoang memiliki kecerdasan emosional yang baik, mereka mampu mengatur dan menjaga arus emosi pada ...
Hubungi Kami
Arah Jalan