Tantangan Penerjemahan

penerjemahan

            Penerjemahan merupakan salah satu tantangan yang dipelajari oleh pelajar lokal dan pelajar asing. Penerjemahan adalah komunikasi makna antara bahasa dari teks sumber dan bahasa dari teks target yang ekuivalen (Bhatia, 1992). Menerjemahkan tidak semudah membaca teks, mencari arti kata-kata yang tertulis dalam kamus, dan tidak hanya sekadar mengganti kata-kata tersebut. Tidak seperti materi lain dalam pembelajaran bahasa (tata bahasa, mendengarkan, berbicara, menulis, dsb), penerjemahan dilakukan dengan cara menggabungkan pengetahuan bahasa pertama yang dimiliki oleh pelajar serta bahasa asing yang sedang dipelajari tidak hanya dalam hal linguistik, tetapi juga dalam hal budaya, pengertian kontekstual, nada, dan tujuan.

Menerjemahkan dokumen tertulis, misalnya jurnal akademik, berita, dan laporan, mungkin lebih mudah sebab penulisannya menggunakan bahasa formal dan ditulis dengan makna literal. Dokumen formal jarang ditulis menggunakan makna konotatif sehingga menerjemahkan dokumen formal semudah menemukan ekuivalen makna dan bahasa yang tepat dari bahasa sumber ke bahasa target. Di dalam laporan, fakta ditulis apa adanya. Misalnya, “Laporan ini dibuat pada tanggal…” dapat diterjemahkan dengan mudah menjadi “This report was made on the date of…” sebab penerjemah hanya perlu menemukan makna literal kalimat tersebut tanpa melakukan parafrase atau pergeseran makna.

Namun, tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan teks yang mengandung latar belakang budaya, makna kontekstual, nada, dan tujuan. Saat menerjemahkan film dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, penerjemah akan menemukan berbagai kata dan ekspresi yang hanya diucapkan dalam bahasa Inggris. Bagaimana orang Indonesia menerjemahkan kata “hell yeah”, “I am pooped”, atau kata informal lainnya yang sering diucapkan dalam bahasa Inggris? Tidak mungkin menerjemahkan kata “hell yeah” menjadi “neraka, ya”, tapi seharusnya diterjemahkan menjadi “iya, dong!” atau “tentu saja!” karena kata tersebut diucapkan saat seseorang mengekspresikan kepastian yang kuat atau persetujuan. Penerjemah juga tidak bisa menerjemahkan “I am pooped” secara literal karena kata tersebut diucapkan ketika seseorang merasa sangat kelelahan. Dengan demikian, menerjemahkan teks seperti ini memerlukan parafrase dan pergeseran makna.

Farah, Wanita Cantik Berhijab Ahli Bahasa, Berperan Penting dalam Diplomasi Surabaya

Urusan diplomatik bisa runyam kalau penerjemahan bahasa tidak tertangani dengan baik. Farah menyadari tugas berat yang dia pikul. Sehari sebelum beraksi, dia mendapatkan bimbingan terlebih dahulu dari Kepala Bagian Kerja Sama Pemkot Surabaya ...
Hubungi Kami
Arah Jalan
%d bloggers like this: